Scrapman On The Blog

Gen Adalah Segala-galanya Bagi Penganut Eugenetika

Posted in Peristiwa by scrapman on Februari 8, 2010

Nurul Ulfah – detikHealth

ImageJakarta, Pemurnian ras adalah tujuan utama penganut eugenetika. Pendukung eugenetika beranggapan hanya masyarakat kelas atas, orang kaya, kulit putih, beragama tertentu dan berbadan sehat saja yang dapat membawa kemajuan pada bangsa.

Cerita pemurnian ras ini telah membuat orang-orangnya sangat rasis seperti yang terjadi di Amerika pada menjelang dan awal tahun 1900-an atau ketika aksi genosida yang dilakukan petinggi Nazi, Hitler.

Eugenetika, sebuah ilmu yang diterapkan untuk meningkatkan kualitas manusia melalui teknik pengontrolan kelahiran dan sterilisasi ras sudah dihapus setelah perang dunia ke-2. Tapi kini, teknik penghapusan ras ‘jelek’ itu masih terdengar dan muncul lagi di Amerika.

Eugenetika berasal dari konsep evolusi dan genetika yang menganggap suatu ras, suku, agama atau kelompok tertentu lebih pantas unggul dan dihormati dibandingkan kelompok lainnya.

Sedangkan para pengangguran, orang-orang cacat, penjahat dan idiot dianggap sebagai pembawa masalah dan harus dimusnahkan.

Seperti dikutip dari Cfif, Senin (8/2/2010), pemandulan (sterilisasi) manusia di Amerika pada tahun 1907 dilakukan secara terorganisir melalui suatu perundang-undangan. Sasaran pemandulan tersebut adalah masyarakat kelas bawah, kulit hitam atau berwarna, para penjahat, idiot dan pengangguran.

Presiden Amerika Serikat saat itu, Calvin Coolidge juga melarang perkawinan antara ras nordik (kulit putih) dengan ras lain di luar rasnya. Perkawinan berbeda ras itu dianggap bisa mengurangi keunggulan ras mereka di masa depan. Hingga tahun 1935, diperkirakan 20.000 nyawa sudah melayang di Amerika karena teori eugenetika.

Peristiwa yang sama juga terjadi di Jerman saat pemerintahan dikuasai Nazi dan mengorbankan 375.000 nyawa. Pada waktu itu, pemerintahan Jerman yang dipimpin Hittler sangat mendukung teori evolusi Charles Darwin yang menyatakan hanya makhluk yang kuat dan mampu beradaptasi sajalah yang dapat lolos dari seleksi alam.

Menurut Hittler, hanya ras Arya yang berkulit putih saja yang berhasil lolos dari seleksi alam dan pantas berkembang di atas muka bumi ini.

Konsep eugenetika dan konsep Darwin sebenarnya saling terkait. Eugenetika pertama kali dicetuskan Francis Galton pada tahun 1883 yang ternyata merupakan saudara sepupu Charles Darwin, pencetus konsep evolusi makhluk hidup berdasarkan seleksi alam.

Konsep-konsep tersebut disalahartikan pada saat itu dan dijadikan alasan untuk bisa membunuh dan mencegah keturunan manusia berkualitas rendah salah satunya dilakukan ilmuwan Jerman Eugen Fischer.

Orang kaya kalangan atas akan diberi keleluasaan mempunyai banyak anak sedangkan kaum miskin dicegah berkembang bahkan sampai dimandulkan.

Dalam teori eugenetika, faktor gen sangatlah penting, sakral dan menjadi penentu keunggulan suatu bangsa. Menurut mereka, orang cerdas akan melahirkan anak cerdas, orang kuat akan melahirkan anak kuat dan begitu juga dengan orang sehat akan melahirkan anak sehat.

Padahal gen bukan satu-satunya penentu kecerdasan dan keunggulan suatu ras, suku dan kelompok tertentu. Faktor gen hanya mempengaruhi maksimal 50 persen kualitas manusia sedangkan sisanya dipengaruhi oleh lingkungan.

Seperti pernah diungkapkan Prof. Dr. Jalaludin Rahmat, pakar komunikasi dan penulis buku ‘Psikologi Komunikasi’, faktor genetik atau keturunan bisa dikalahkan oleh faktor lingkungan dan nutrisi. “Nurture atau lingkungan bisa mengalahkan nature atau warisan biologis jika otak terus distimulasi,” jelas Jalaludin.

Sebagai contoh, anak berbakat bisa dilahirkan dari bapak atau ibu yang cerdas tapi belum mampu menjadi anak yang pintar tanpa bimbingan yang baik dari lingkungan. Bahkan faktor emosional yang dikendalikan dari lingkungan menjadi pemicu keunggulan bangsa.

Meski studi saat ini sudah membuktikan bahwa gen bukanlah penentu satu-satunya kecerdasan, namun praktik eugenetika hingga saat ini masih tetap bertahan.

Bagi para penganut eugenetika, ilmu pengetahuan bagaikan Tuhan yang menjadi pijakan untuk bertindak meski tindakan itu jelas-jelas melanggar Hak Asasi Manusia.
(fah/ir)

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. adirama said, on Februari 10, 2010 at 2:05 am

    kecerdasan bukan satu penentu


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: