Scrapman On The Blog

Amir Khusraw Meletakkan Dasar Bermusik

Posted in Warisan Islam by scrapman on Desember 20, 2009

Dyah Ratna Meta Novi

Khusraw menyimpulkan, musik adalah dasarnya ilmu.

Seni lekat dalam jiwa Amir Khusraw. Ia dikenal sebagai seorang pemusik berbakat, penyair, dan penulis sejarah terkemuka. Nama Khusraw menjadi legenda dalam sejarah musik Hindustan. Sebab, ia memang memberikan warna dalam musik di wilayah itu.

Kontribusi Khusraw dalam bidang musik begitu banyak dan sangat luar biasa. Tak heran banyak orang melontarkan pujian atas kejeniusannya dalam menghasilkan musik. Tak hanya pemusik di masanya yang memberikan pujian, tetapi juga para pemusik masa-masa berikutnya.

Bahkan, Khusraw karib disebut sebagai pendobrak musik klasik Hindustan. Ia berasal dari keluarga Turki. Ayahnya bernama Sayf al-Din Mahmud, prajurit terhormat yang dikirim ke Delhi, India, kemudian menjadi perwira di bawah Sultan Syams al-Din Iltutmish.

Sultan Iltumish berkuasa pada 1211 hingga 1236 M. Khusraw lahir di tanah Hindustan pada 1253 M, saat ayahnya sedang menjalankan tugas pelayanan di Patiyala, India. Karena merasa dilahirkan dan dibesarkan di Hindustan, Khusraw menganggap dirinya seorang Hindustan Turki.

Lalu, Khusraw dibesarkan dalam lingkungan dan adat yang sangat menghargai musik sehingga tidak mengherankan jika dia sangat ahli dalam musik. Menurut dia, musik adalah ilmu dalam lingkup yang sangat luas. Seluk-beluk ilmu musik terlalu rumit dikuasai seorang individu.

Prinsip-prinsip musik pada awalnya ditetapkan oleh orang-orang terpelajar dari Yunani atau para filsuf Bizantium. Teori mode irama itu penting, termasuk di dalamnya ushul, pardah, dan ibresham.

Ketiga mode irama itu, jelas Khusraw, merupakan irama dasar sedangkan sisanya merupakan cabang mode irama atau furu dari irama dasar tersebut. Di sisi lain, ia terus menegaskan bahwa musik merupakan dasarnya ilmu.

Seperti dikutip laman Muslimheritage, sebanyak delapan kali Khusraw menyebut istilah ilm atau ilmu dalam karyanya tentang musik. Ia menjelaskan, musik merupakan sebuah bidang studi, pengetahuan, dan pendidikan.

Ilmu musik, jelas Khusraw, memiliki dasar dari ilmu matematika. Sebab, ia menemukan, jauh sebelum dirinya memperkenalkan mode irama, delapan mode irama dari Bizantium, dan delapan mode irama Arab-Persia dibuat berdasarkan matematika.

Dengan demikian, Khusraw menyimpulkan bahwa irama musik dibuat menurut dasar matematika. Ia pun memiliki pengetahuan mendalam tentang tradisi musik Hindustan dan Arab-Persia. Selain ketekunannya, ia memang memiliki bakat alami dalam bidang musik sejak kecil.

Dalam tradisi musik Arab-Persia, Khusraw menekankan aspek sejarah musik tersebut. Untuk mengamati tradisi musik Arab-Persia, dia merujuk pada teoretikus musik dari Yunani atau Bizantium yang pertama kali mendefinisikan prinsip-prinsip musik.

Lalu, Khusraw berbicara tentang eksponen besar di kalangan orang-orang Arab dan Persia. Dia juga menggambarkan kontribusi terhadap kemajuan perkembangan musik Arab-Persia oleh para ahli musik dari Irak dan Isfahan. Pun, para pakar musik Arab dari Baghdad dan Mesir.

Khusraw menyebut dua musikus hebat dari Persia, yaitu Nikesa dan Barbad yang berasal dari Bakharz dan Nahavand. Ia pun menggambarkan tentang ahli teori musik bernama Abdul Mumin yang karya-karya berkembang pesat pada abad ke-12, 50 tahun sebelum Khusraw lahir.

Abdul Mumin sendiri menulis karya penting tentang musik yang berjudul Bahjat al-Ruh pada masa pemerintahan Mu’izz al-Din Muhammad Ghuri pada 1173 hingga 1206. Meski mendapat pengaruh dari tradisi Arab-Persia, Khusraw memiliki pandangannya sendiri.

Dalam tradisi musik Arab-Persia, terdapat doktrin tentang harmoni bola. Doktrin ini menyebutkan bahwa catatan musik atau naghmat dan melodi atau alhan, berasal dari gerakan bola dan bintang-bintang yang ada di langit.

Doktrin itu menyebutkan pula, semua musik yang sesuai dengan gerakan tetap bola harus memenuhi beberapa set mode. Namun, Khusraw menganggap jika penciptaan musik hanya terbatas mengikuti gerakan bola, kreativitas manusia menjadi sangat terbatas.

Padahal, pengalaman ataupun kreativitas bermusik manusia itu jauh lebih luas daripada lingkup terbatas gerakan bola. Menurut Khusraw, musik itu harus mengalir seiring pemikiran dan kreativitas tanpa harus dibatasi.

Sebab, menurut Khusraw, ilmu musik lebih luas cakupannya daripada luas langit jadi musik tidak perlu mengikuti gerakan tetap bola. Ia pun sangat paham dengan adat tradisi musik Hindustan. Ia mengagumi sejumlah pemusik India saat itu.

Namun, Khusraw pun sangat kritis terhadap musisi Hindu, yang pada umumnya ia anggap memiliki tingkat pemahaman yang kurang baik dalam bermusik. Mereka, ujar dia, mengabadikan tradisi musik selama berabad-abad melalui kabar angin.

Menurut Khusraw, mereka tidak mempunyai pengetahuan tentang prinsip-prinsip ilmiah musik. Sehingga, prestasi musik mereka kurang bagus. Pemahaman dia tentang musik, mendorongnya melahirkan karya fenomenal dalam bidang musik.

Khusraw menulis tiga jilid buku tentang musik dan karya-karyanya masih ada hingga sekarang. Buku karyanya itu diberi judul Rasa’il al-Ijaz. Dalam karyanya itu, ia banyak memberikan kontribusi dalam teori dan praktik musik.

Bagian kedua dari tiga jilid bukunya itu mengungkap tentang diferensiasi fundamental dan prinsip-prinsip dalam musik. Wacana utama dalam karyanya tersebut bertujuan menghasilkan sepotong prosa kreatif dalam terminologi musik.

Khusraw merupakan seorang pemusik yang mempunyai pengetahuan mendalam tentang perkembangan sejarah musik, dan mempunyai banyak pengalaman aktual tentang musik kontemporer. Ia selalu menggunakan istilah dan frase yang mewakili konsep, teknik, atau betuk artistik musik.

Konsep itu terutama dalam upayanya untuk memproduksi musik. Saat menulis karya tentang musik, Khusraw selalu berusaha menjelaskan makna dari setiap istilah atas frase yang digunakannya. Ia berharap, para pembaca karyanya mampu mengerti dan memahami konsep musiknya.

Sebab, tanpa pemahaman yang dalam saat bermusik, jelas Khusraw, sebuah karya musik akan sulit dihargai. Secara umum, buku karyanya itu membahas pengamatannya tentang teori dan sifat alami musik, tradisi kuno, suasana kontemporer, dan latihan.

Selain itu, bahasan lainnya adalah soal tingkat pencapaian dalam teknik dan performa dalam bermusik. Juga, tentang perlunya pendidikan lebih lanjut atau pemahaman yang berkelanjutan dalam upaya mempelajari musik. ed:ferry

Khusraw dan Pendidikan Musik

Selain menguasai teori dan praktik musik, Amir Khusraw menegaskan perlunya pendidikan musik. Ia mengatakan, pendidikan diperlukan oleh mereka yang ingin mencapai keunggulan dalam olah vokal ataupun bermain instrumen musik.

Keunggulan dalam olah vokal dan bermain instrumen musik, mencerminkan kemampuan pemusik dalam mengembangkan kinerjanya secara teknik dan artistik dalam bermusik. Khusraw membagi vokalis dalam dua kategori, yaitu kategori umum dan mereka yang memiliki spesialisasi gaya khusus.

Mereka yang memiliki spesialisasi gaya khusus dibagi lagi ke dalam ahli dalam menyanyikan lagu asli Hindustani atau Kalavantan-i Hindi, ahli dalam menyanyikan lagu gaya ghazal Persia, dan qawwalan yang mampu membawakan lagu Sama’ atau Qaol.

Para pendengar musik Qaol biasanya merupakan orang-orang yang menyukai musik yang berisi kesalehan. Orang-orang yang mendengarkan musik Qaol biasanya adalah kaum terpelajar dan para sufi. Musik Qaol berasal dari Arab yang disebut Qaol-hai-Hejazi.

Sedangkan penguasaan dalam performa musik, Khusraw menyatakan ada orang yang memiliki kemampuan untuk memainkan melodi atau ritme dan membuat komposisi musik, mengubah mode dengan menyesuaikan rasio, dan melakukan transisi dari satu mode ke mode lain.

Khusraw menyatakan, untuk mengembangkan pemahaman tentang prinsip dasar musik dan mahir dalam bermusik, seseorang harus mendapatk
an pendidikan musik secara benar. Musikus harus mengajar orang-orang muda dan memerintahkan mereka untuk belajar musik dengan baik.

Menurut Khusraw, para pemusik yang tidak mendapatkan pendidikan dalam bermusik dan bernyanyi akan memainkan musik dengan pola jauh di bawah standar. Bahkan, Khusraw pernah mengkritik para musikus yang dijuluki King of Music, seperti para pemain Rebab dan Chang.

Sebab, Khusraw menganggap mereka tidak mempunyai pengetahuan dasar tentang prinsip-prinsip bermain musik.

Khusraw mengatakan, dia mendengarkan suara-suara dari King of Music, kebanyakan dari mereka hampir tidak tahu apa-apa. Mereka harus diberi pendidikan musik sehingga mampu membangun instrumen yang rumit dan kerangka melodi yang terbaik.

Khusraw menekankan pentingnya standar tinggi dalam pendidikan musik. Ia terus berusaha keras meningkatkan standar bermain musik. Ia pun menganggap musik bukanlah kesenangan semata, melainkan merupakan sebuah ungkapan ilmu dan seni yang harus dimainkan dengan kemampuan tinggi.

Dengan demikian, jelas Khusraw, dalam kegiatan bermusik yang dimainkan orang-orang berkemampuan tinggi, akan menghasilkan sebuah musik yang begitu indah didengar dan sarat makna. Para penikmat musik juga akan merasa puas. meta, ed:ferry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: