Scrapman On The Blog

Otak Lebih Besar Tidak Berarti Lebih Cerdas

Posted in Peristiwa by scrapman on Desember 10, 2009

ImageUkuran otak sangat bervariasi di antara berbagai makhluk yang berbeda: Seekor paus berat otaknya sekitar 20 pon (dengan lebih dari 200 milyar sel), otak manusia bervariasi antara 2,8 hingga 3,2 pon (diperkirakan dengan 85 milyar sel syaraf) dan otak lebah madu beratnya hanya 0,000035 ons (dengan kurang dari satu juta sel syaraf).

Sejumlah pakar biologi menyatakan bahwa serangga, meskipun ukuran otaknya kecil, namun memiliki kecerdasan sama dengan hewan yang lebih besar.

“Kita mengetahui bahwa ukuran tubuh merupakan satu-satunya cara terbaik untuk memprediksi ukuran otak hewan,” ujar Lars Chittka, seorang profesor pada Universitas London, dalam makalahnya Current Biologi. “Namun, bertentangan dengan keyakinan pada umumnya, kita tidak bisa mengatakan bahwa kapasitas ukuran otaknya dapat memprediksi kecerdasan. Hewan dengan otak yang lebih besar tidak selalu lebih cerdas.”

Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa serangga memiliki kecerdasan, yang pada awalnya para ilmuwan hanya membayangkan secara ekslusif hewan lebih besar. Sebagai contoh, lebah madu dapat menghitung, mengkatagorikan obyek serupa dan membedakan bentuk-bentuk simetris serta asimetris.

Seperti yang ditampilkan dalam komputer menunjukkan bahwa kesadaran dapat terbentuk dengan sirkuit neural sangat kecil, yang secara teoritis dapat memasuki otak serangga. Satu makhluk hidup dapat menghitung dengan hanya beberapa ratus sel syaraf dan dapat membentuk kesadaran hanya dengan beberapa ribu sel syaraf, ujar Chittka.

Riset telah menunjukkan, binatang lebih besar seharusnya memerlukan otak lebih besar karena otaknya membutuhkan pengendalian lebih. Misalnya, mereka memerlukan syaraf lebih besar untuk menggerakkan otot lebih besar. Peningkatan ukuran memungkinkan otak berfungsi secara lebih cermat, dengan resolusi lebih baik, sensitifitas lebih tinggi maupun presisi yang lebih besar.

“Dalam otak yang lebih besar, kita seringkali tidak menemukan kompleksitas lebih, hanya satu pengulangan tak berujung dari sirkulasi neural yang sama secara berulang-ulang. Hal ini memungkinkan menambahkan rincian untuk mengingat gambar maupun suara, namun tidak memperbesar tingkat kerumitan. Dengan menggunakan analogi komputer, kekuatan otak yang lebih besar dalam sejumlah kasus lebih sulit dikendalikan, prosesor tidak selalu lebih baik,” ujar Chittka.(EpochTimes/sua) (http://www.erabaru.net)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: