Scrapman On The Blog

Puisi Terakhir Rendra

Posted in harmoni by scrapman on Agustus 7, 2009

Depok – Meski menahan sakit dan sudah menjelang ajal, WS Rendra tak ingin seperti orang kebanyakan yang malah menerawang. Penyair dan budayawan ini memilih tetap berkarya. Puisi terakhir pun dibuatnya di pembaringan rumah sakit.
“Wasiat secara tulisan, dia membuat puisi dalam keadaan sakit. Menurut dokter, kalau orang sudah mau meninggal biasanya suka menerawang kayak ngigau. Tapi dia masih bisa buat puisi. Dia ingin membuktikan masih bisa berkarya,” kata anak Rendra, Theodorus Setya Nugraha (50), di Bengkel Teater, Depok, Jumat (7/8).

Puisi terakhir Rendra dibuat saat diopname di RS Mitra Keluarga Depok pada 31 Juli 2009. Berikut isi lengkap puisi terakhirnya:

Aku lemas
Tapi berdaya
Aku tidak sambat rasa sakit
atau gatal

Aku pengin makan tajin
Aku tidak pernah sesak nafas
Tapi tubuhku tidak memuaskan
untuk punya posisi yang ideal dan wajar

Aku pengin membersihkan tubuhku
dari racun kimiawi

Aku ingin kembali pada jalan alam
Aku ingin meningkatkan pengabdian
kepada Allah

Tuhan, aku cinta padamu

Rendra
31 July 2009
Mitra Keluarga

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. riosvavfell said, on Agustus 7, 2009 at 6:55 pm

    sumpah dahsyat….

  2. azai said, on Oktober 30, 2009 at 8:28 am

    BLOK M DEKAT SENAYAN
    18 oktober 2009
    A. Zain fata

    Di blok M kawanku………….
    Sebuah terminal Jakarta Selatan
    Dalam bus kota
    Aku duduk di jok belakang….
    Kota Jakarta….
    Kota metropolitan
    kota tempat orang berdasi di pangkalan
    Senayan…. Sungguh indah menawan.

    Tapi….
    Jakarta kawan
    Jiwaku melayang
    Sejauh langit terbentang
    Menyaksikan orang-orang….
    Gaduh di balik gemerlapan
    Di persimpangan, di setiap torotoar
    Dan di sudut perkotaan,
    Terhantam kemiskinan.
    Seorang bocah dalam keterasingan
    Berteduh di balik papan-papan
    Menggigil kedinginan
    Berusaha nikmati kenyataan.

    Dan……
    Kawan….
    Kudengar suara indah perlahan
    Isak tangis bocah itu… yang tak terhiraukan.
    Terkalahkan gemuruh musik pabrik
    Terdengar mencakar batin tercabik
    Adikku sayang.. kau tahu waktu tak berbilang
    Jangan air mata kau buang
    Langkahkan kaki, jangan lihat belakang
    Biar ia menjauh dan melajang

    Oh….
    Gelengan kepala bocah itu….
    Hatiku bingung
    Ia pilih predikat pemulung
    Tak bisa menerka untung

    Oh.. Bapak….
    Jakarta
    Sungguh ku terlelap
    Dan …
    Aku tahu kala bapak selalu bersiap
    Sungguh janjimu umpan
    Menunggu mangsa kelaparan
    Tak terhiraukan keikhlasan
    Hanya permainan

    Oh…
    Saat kucari terbelenggu,
    Dalam mushaf kehidupan
    Seolah dadu terlempar dalam…
    Permainan ular tangga
    Menimang mimpi lunglai tiada bertepi

    Kemana oh Bapakku…
    Kembara dengki di kursi kementrian
    Kau bukan busung lapar
    Atau terbelakang mental

    zain
    18 oktober 2009


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: