Scrapman On The Blog

Menikmati Lukisan dalam Aroma Mistik

Posted in Ghotic by scrapman on November 9, 2006

Oleh Irma Tambunan

Ada ratusan goa karst di sepanjang bawah permukaan pegunungan sewu Gunung Kidul. Ini sebuah aset yang berpotensi mengangkat pendapatan daerah. Sayangnya, hingga semakin banyak yang mulai rusak akibat eksploitasi manusia, garapan wisata dan pelestarian goa belum juga berjalan.

Menjelajahi sepanjang pegunungan sewu yang terhampar di 11 kecamatan, seperti Ponjong, Semanu, Wonosari, Tanjungsari, Tepus, Paliyan, Purwosari, Panggang, Saptosari, Rongkop, dan Girisubo, adalah menyaksikan lekukan-lekukan bukit kerucut maupun menara nan indah dan eksotis. Di baliknya, terdapat setidaknya 468 goa bawah tanah. Pada sejumlah lorong-lorongnya, sungguh unik, saling terhubung dan membentuk jaringan pergoaan. Sebagian lain bahkan bermuara pada sungai bawah tanah.

Dalam kegiatan penelusuran di Goa Cokro dan Goa Telaga bersama kelompok telusur goa Acintyacunyata Speleological Club (ASC), Sabtu (19/8) lalu, nuansa eksotis itu kami dapatkan di sana. Goa Cokro yang berlokasi di Kecamatan Ponjong cukup menantang dengan mulutnya yang vertikal pada kedalaman sekitar 15 meter. Memerlukan perlengkapan single rope technique (SRT) untuk dapat mencapai dasar goa yang sudah enam kali menjadi tempat bunuh diri orang-orang desa yang putus asa akan hidupnya. Penelusuran ini bagaikan bertualang menikmati lukisan dalam aroma mistik.

Selang tiga atau empat meter ke bawah, mulai tampaklah ornamen- ornamen goa di sekeliling dindingnya yang megah dan memanjang. Saat kaki menjejak dasar goa, seorang teman berkata, “Itu, di sanalah tubuh orang yang terakhir kali bunuh diri,” ujarnya sambil menunjuk salah satu titik yang dipenuhi tumpukan runtuhan bebatuan.

Menurut dia, saat ditemukan warga sekitar dan kelompok search and rescue (SAR) yang membantu pengangkatan tubuh korban ke permukaan, tubuh tersebut mulai digerogoti belatung. Ditambahkan Ny Sabar, Juru Kunci Goa Cokro, goa itu kerap menjadi lokasi bunuh diri karena mulutnya yang membentuk luweng.

Namun, para penelusur goa tampaknya tak akan goyah oleh kisah-kisah mistik serta anggapan keramat yang membayangi setiap goa. Bahkan, setiap kali sebuah goa yang dikeramatkan masyarakat berhasil dimasuki salah satu kelompok penelusur, goa itu akan semakin terbuka.

Lorong gelap

Menjadi pengalaman mengasyikkan saat menelusuri lorong-lorong goa yang gelap. Atas bantuan senter dan lampu karbitlah kami dapat menyaksikan indahnya lukisan alam yang tersaji di sepanjang deretan bebatuan purba. Lukisan tersebut tak henti-hentinya menceritakan evolusi bebatuan karst hingga ke ujung lorongnya. Ada lorong yang bercabang dan tak kalah menggoda untuk ditelusuri. Meski sepatu bot kami dipenuhi lumpur dan kelelawar yang senantiasa melewati kepala, rasanya rugi untuk melewatkan petualangan ini.

Ornamen-ornamen yang tersaji di Goa Cokro terbilang unik. Ada sejumlah batu draperies dari keluarga flowstone di bagian dindingnya, yang jika diketuk-ketuk akan menimbulkan suara mirip gong. Jenis bebatuan seperti ini juga bisa ditemui di Goa Gong, Pacitan. Ada pula stalaktit dan stalagmit dari keluarga dripstone.

Cukup puas menikmati sejumlah ornamen, kami melanjutkan perjalanan menuju Goa Telaga, yang di musim kemarau ini menjadi hunian sementara macan cecep atau blacan. Dalam goa ini memang terdapat genangan air, sehingga blacan dapat minum lebih nyaman di sana tanpa mengganggu penduduk sekitar.

Goa Telaga diperkirakan termasuk kelompok goa fosil karena ornamen- ornamennya yang kering tak lagi menghasilkan bentuk-bentuk baru pengikisan oleh tetesan air di atasnya.

Sayang, perjalanan kami terhenti ketika seorang teman yang berjalan paling depan melihat seekor kobra, hanya berjarak setengah meter darinya. Demi menghindari risiko racunnya, kami memutuskan segera meninggalkan goa tersebut.

Memang, sebagian goa sulit diakses karena bentuknya yang vertikal dan curam, dengan bebatuannya yang labil. Namun, tak sedikit pula yang sesungguhnya dapat dibuka sebagai lokasi wisata minat khusus. Menurut Ny Sabar, selama ini Goa Cokro dan Goa Telaga hanya dijelajahi oleh kalangan mahasiswa pencinta alam atau kelompok telusur goa. Padahal, Goa Telaga misalnya, dapat ditelusuri tanpa harus menggunakan SRT.

Gunung Kidul memiliki minimal 468 goa bawah tanah. Namun, belum satu pun yang terakses memadai untuk keperluan wisata.

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. sabbath said, on Juni 30, 2007 at 7:55 am

    Setuju banget klo goa juga perlu dikonservasi.wisata goa bisa menjadi objek wisata tdk hnya menarik tapi juga menantang =)

  2. wawan said, on Januari 11, 2008 at 2:21 pm

    bagus


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: