Scrapman On The Blog

PKL dijuluki “premanisme atas nama kemiskinan”, begitu menusuk hati setiap pedagang

Posted in Black Road by scrapman on November 8, 2006

Teruntuk semua yang bernyawa,

Demi tetesan keringat dan darah yang kami bendung menggunakan bejana kemiskinan untuk dipersembahkan diatas altar sesembahan Jibti dan Tagut, lalu mereka hisap bersama lintah-lintah yang terpilih oleh kami dalam pemilu. Kalian jerumuskan kamu dalam kubangan kesulitan yang melilit kusut,memenjarakan kehidupan yang dianggap layak dalam kungkungan aturan Perda. Kini kami hanya objek penderita yang olehnya dijadikan wacana berupa data statistik dalam pidato kenegaraan saja. Kami hanya menjadi alasan atas pembentukan kebijakan-kebijakan yang mengatas-namakan kesejahteraan rakyat pada sidang konspirasi politik cecurut demi mengeluarkan uang dari kas negara agar dapat mereka mark up nantinya.

Kini kami tak sempat lagi berpikir sesuatu yang bersifat global,tidak berpikir akibat munculnya IMF,AFTA,NAFTA,globalisasi,perdagangan bebas,pasar bebas, atau seluruh perbuatan korporasi neo-liberal, yang kami pikirkan hanya akan kah esok hari ada sesuap nasi yang akan melewati mulut-mulut terbuka ini untuk mengganjal perut-perut yang menderita kelaparan ini. Ketika kami hanya mengambil beberapa ruas jalan untuk mengais rejeki,kalian tetap mengusik kami dengan mengirim tingkatan preman berpangkat dan berseragam itu yang membabi buta menghancurkan dagangan kami layaknya berhala-berhala. Kami hanya ingin memperoleh kehidupan yang kami anggap layak,tidak menuntut untuk menaikkan tingkat stata sosial kami.

Setelah 1 jalan solusi untuk membebaskan kami dari julukan sampah masyarakat yaitu dengan berjualan karena ketiadaan lapangan pekerjaan,kalian tetap saja merenggutnya.yah meskipun ada pekerjaan tetap saja kami tidak mau memperolehnya dari privatisasi yang mengeruk harta negara. Bukannya kami memilih-milih pekerjaan,kami hanya tak ingin menjadikan negara ini sebagai negara yang paradoks. Setelah undang-undang no.13 tahun 2003 tentang ketenaga kerjaan di revisi yang menimbulkan berbagai polemik dan seakan-akan merugikan pihak buruh terus saja dikumandangkan seraya orasi tak pernah diam mengutuk jusuf kalla.

Maaf kami keluar dari konteks kontemplasi, dilain pihak segelincir orang lebih suka pinggiran jalan yang kosong itu ditegakkan tiang-tinga spot iklan barang-barang kapitalis yang menstimulan konsumerisme hedonis. Mereka lebih senang di isi dengan parkiran mobil-mobil mewah yang income nya masuk ke dalam kas pemda. Kami mengaku bahwasanya kami memang melanggar aturan beberapa perda,terutama kami dibandung ini melanggar perda no.11 tahun 2005. Tapi mau bagaimana lagi,setidaknya yang kami lakukan hanya demi menyambung hidup meski itu hanya untuk esok hari. Lalu apa yang harus kamu lakukan setelah kamu diusir dari beberapa jalan itu ?,setelah tidak ada lapangan pekerjaan untuk kami. Haruskan menjadi mengemis,melacurkan diri,atau bahkan menjual beberapa organ vital kita sendiri.

Seolah kami tak punya jalan lain, tolonglah kami yang menghidupi keluarga dan ibu kami yang renta yang air susu nya tak lagi menetes untuk men-suplai pokok nutrisi bagi adik kami yang masih kecil. untuk meneruskan pendidikan kami yang terhambat karena jangankan untuk membayar sekolah,untuk membeli buku tulis saja sulitnya minta ampun. lalu apa kiranya yang harus kami lakukan ?? dan yang duduk berkuasa lakukan ??. Untuk pekerjaan menjadi kuli bangunan saja sekarang sudah jarang karena lahan tanahnya sudah disesaki gedung-gedung Mall, makanan cepat saji McD yang bertaburan disana-sini. Sedangkan saya yang berjualan ayam goreng di sekitar simpang dago merasa ironis sekali karena dihadapan dagangan yang kami jajakan berdiri kokoh bangunan Mcd cepat saji itu. Setelah keluar SMU saya tak melanjutkan kuliah karena terlampau mahal biaya nya jadi saya alihkan untuk pendidikan adik saya yang masuk SMU itu. Saya menggantikan orang tua bekerja karena ibu dan ayah tak sanggup lagi. bagaimana sekiranya yang harus saya lakukan ?? yang harus mereka lakukan??.

september, pelukis senja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: