Scrapman On The Blog

SEMIOTIKA RAJATEGA

Posted in Lirik by scrapman on Oktober 20, 2006

MC hari ini lebih banyak memakai topeng dari Zapatista/
hampir sulit membedakan antara bacot patriot dan miskin dengan logika/
bicara tentang skill dan kompetisi, mengobraL sompral/
jatuh setelah berkoar, lari dengan ujung kontol terbakar/
MC butuh federasi dan breakbeats berdasi/
untuk sekantung wacana dan basi dan eksistensi/
MC Tampon, mencoba membuat mall menjadi Saigon/
amunisi tanpa kanon, mucikari martir yang gagal mencari bondon/
sarat kritik, kosong esensi seperti khotbah kyai Golkar/
bongkar essay kacangan lulabi usang pasca makar/
gelora manuver rima Kahar Muzakar/
tak akan pernah dapat menyentuh beat pembebasan B-Boy Ali Asghar/
hiphop chauvis, kontol kalian bau amis, memang tak akan pernah habis/
persis duet Hitler tanpa kumis dan Earth Crisis/
krisis identitas teman nongkrongnya ‘niggaz’/
sebut dan diss nama kami, kubuat bacot kalina karam seperti Tampomas/
berusaha setengah mati menjadi negasi/
berlindung dibelakang pembenaran interpretasi, basa basi/
mengorbankan kebanggaan dengan microphone terseret/
tak sabar menunggu saat monumental kalian berduet dengan Eurico
Guterez/

ternyata rencana invasimu lebih meleset dari konsepsi/
dan predikasi partai marxist akan kematian borjuasi/
melemparkan invitasi MC pada setiap rima/
dan homicide masih mendominasi sensus kematian populasi akibat
rajasinga/
MC adalah negara yang membuat kontradiksi tak pernah final/
tanpa manifestasi yang sesubstansial gerilyawan maoist di Nepal/
lirikal neoliberal, yang memaksa index lirikmu turun drastis/
yang terlihat lebih dungu dari logika formal, terlalu tipikal/
dan masih jauh dibawah horizon minimal/
memiliki nasib yang sama dengan PSSI dalam kancah inernasional/
hadirkan konfrontasi maka MC lari dari mencari pengacara/
dan mengakhiri argumen dengan histeria seperti Yudhistira tanpa hak
cipta/
jangan berharap unggul dengan skil bualan ala TV media/
yang membuat kau dan Iwa tersungkur dalam satu kriteria/
representasi yang membuatmu nampak seperti fatamorgana/
membuat setiap microphone battle berakhir dengan wajah yang sama/
persetan dengan persatuan, hiphop hanya memiliki empat unsur/
dua microfon, kau dan aku, tentukan siapa yang lebih dulu jatuh
tersungkur/

memang memuakkan melayani diplomasi scene lawakan/
tapi kalian pasti dapatkan jika kalian menginginkan konflik atas nama
kebanggaan/
bidani bacot murahan tentang imortalitas hiphop seperti liang dubur/
pahlawan kesiangan yang membuat lagu lama konservatif keluar liang
kubur/
karena aku adalah seorang kapiten neraka/
mematahkan pedang panjang para lokalis duplikat dan plagiat para Wu-
Tang/
label adalah reduksi, komoditas residu industri/
kultural hegemoni, membidani oponene dalam posisi/
prosa pramudya yang bukan Ananta Toer/
mengepal jemari meski dengan batas teritori yang terkubur/
arwah objek kritik lapuk layal sosialisme ilmiah/
kalian ancam kami dengan lulabi akidah/
paku dalam bingkai kaca keagungan moralitas, persetan kuantitas/
kematian memang identitas yang tak perlu imortalitas/
memenej kalbu tanpa kotbah Aa Gymnastiar/
menembus urat nadi distribusi tanpa harus membuat izinku terdaftar/
MC menabur bensin dan tak pernah punya nyali menyalakan korek/
membacot dibelakang punggung lebih parah dari CekNRicek…

\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\
Penjelasan:
Lagu ini ditulis pada pertengahan tahun 2001 lalu. Ketika terjadi fenomena
pemberangusan gerakan ‘pro-dem’ (whatever the fuck that means), dan
sweeping plus pembakaran buku-buku yang dicap ‘kiri’ oleh beberapa golongan
yang berlindung dibalik topeng moral agama dan nasionalisme. Tak hanya
sekedar itu, dengan dukungan propaganda massif lewat media massa (para elit
mereka notabene merupakan pemilik beragam media massa lokal), mereka juga
melakukan penganiayaan, pemukulan, penculikan bahkan penyerangan dan
pembongkaran markas-markas aktivisme di beberapa kota. Pada awalnya hanya
hanya sebagian kecil saja yang memberanikan diri menentang mereka secara
terang-terangan namun pada akhirnya gelombang fasis baru ini direspon
dengan perlawanan di basis akar rumput pada hampir setiap kota.

Beberapa kawan menyarankan untuk tidak merilis lagu ini dengan alasan
klise; masyarakat kita adalah masyarakat religius, namun kami berargumen
bahwa fasisme tidak ada hubungannya dengan religius atau tidaknya sebuah
masyarakat. Kultur religius tidak harus dibarengi dengan tabiat Mussolini
dan Stalin, dan kami pikir setiap orang pun dapat membedakan antara agama
dengan fasisme, terutama mereka yang selalu membuka ruang bagi perdebatan
dan argumentasi. Kecuali memang jika kita dikelilingi oleh para fasis atau
dalam kata lain masyarakat kita hari ini adalah wujud lain dari gabungan
pasukan Ariel Sharon dan Neo-Nazi. Itu sudah beda masalah.

Lagu ini kami dedikasikan pada mereka yang pada hari-hari tersebut berada
digaris depan, mulai dari Medan, Lampung, Jakarta, Bandung, Jogja, hingga
Surabaya.

Keep ya head up, brothers.
Stay Strong.

dari http://sayap-imaji.tk/

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. dower anarcy said, on November 3, 2007 at 5:21 pm

    BAGUS PERJUANGKAN YG TLAH ADA NGOMONG2 KPN NICH TAMPIL DI SEMARANG END BGMN CARA MENDAPATKAN ALBUM YG BARU?

  2. ANTI VICTIM LAMPUNG said, on Januari 13, 2008 at 5:05 pm

    DONT WATCH TELEVISION…..FUSK PBR


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: