Scrapman On The Blog

Wajah ganda Ideologi dan Agama

Posted in Fresh by scrapman on Mei 4, 2006

Anak sekolahan di Indonesia biasanya mengenal ideologi mempunyai dua sisi; positif dan negatif. Persis yang diperkenalkan mas Saleh. Saya menyebutnya sebagai wajah ganda ideologi. Hal ini senada dengan Ernst Bloch yang dikutip ulang generasi penerusnya Douglas Kellner dalam artikel lepasnya Ernst Bloch, Utopia and Ideology Critique pernah berpendapat, “For Bloch, ideology is “Janus-faced”, two-sided: it contain errors, mystifications, and techniques of manipulation and domination, but it also contains a utopian residue or surplus that can be used for social critique and to advance progressive politics.”

Bagaimana kita bias mengetahui wajah ganda ini? Dalam ranah realitas historis, contoh yang paling baik untuk memahami wajah ganda ini berada di balik sisi gelap pertikaian ideologi kapitalisme melawan sosialisme. Selain membawa korban nyawa. pertikaian itu membawa kemajuan dan kegairahan dialektika di bidang ilmu-ilmu sosial. Para teoritisi kapitalisme, misalnya, berlomba-lomba melahirkan teori-teori modernisasi untuk membendung semangat komunisme dan antikapitalisme.

Di sisi lain, para teoritisi sosialis-komunis melahirkan teori-teori yang menelanjangi keserakahan kapitalisme sekaligus kritik (anti) terhadap kapitalisme, misalnya teori “materialisme dialektika-historis” (Karl Marx), teori “strukturalis” (Althusser), teori “hegemoni” (Antonio Gramsci), teori “ketergantungan” (Shamir Amin, Andre Gunder Frank, dan sebagainya).

Pesatnya teknologi dan sains sekarang ini sering disebut-sebut sisi positif dari pertikaian Ideologi Barat (dalam hal ini Amerika) dan Timur (Uni soviet). Gairah dan spirit untuk menaklukan dan menyaingi (competition) musuh inilah yang disebut “spirit of life,” dari ideologi tersebut. Kalau kemudian ini dibilang sisi positif Ideologi, saya tidak sepakat.

Dari situ bias dilihat wajah positif Ideologi hanyalah efek dari hasrat permusuhan.
Tentang Klaim Ideologi adalah biang keladi Tragedi kemanusian, saya tidak sendiri. Dr. Helen Fein dari Kennedy School of Government Havard University. Dalam artikelnya di Microsoft Encarta Encylopedia (2003) dia menunjukan dengan bernas hubungan antara Ideologi dengan pemusanahan manusia (genocide) yang banyak terjadi itu. Frank Chalk dan Kurt Jonasshohan dua orang pakar sosiologi Kanada pernah mengatakan Faktor Ideologi adalah pilar utama peristiwa Holocaust Nazi, Pembunuhan besar-besaran orang Armenia olehKaisar Utsmani, pemusnahan rakyat kamboja oleh Kmer merah.

Disamping itu, sisi Positif dan negatifnya sebuah ideologi, sangat tergantung sudut pandang penilai. Seorang Kapitalis sejati tak pernah melihat sisi positif Komunisme, demikian juga sebaliknya.

Dengan logika yang ketat dan berat, mas saleh mempunyai kesimpulan bahwa saya telah melakukan “Generalisai”. Kemudian mas Saleh menggunakan teori Falsifikasi Karl Popper seorang positivistik tulen. Ini memang satu-satunya rujukan yang tepat.

Dengan teori Falsifikasi dan Verivikasinya Pipper inlah saya bisa melihat bagimana Mas saleh dalam sekejap meruntuhkan apa yang dianggapnya “klaim besar” saya.

Ini sedikit jawaban saya:

Dalam lapangan filsafat ilmu, Karl Popper merupakan nama besar yang sempat menjulang setinggi langit. Namun sejak tahun 65-an rasanya sudah ‘diturunkan’ sedikit oleh Kuhn. Popper adalah salah seorang kritikus Kuhn yang handal. Dia menentang historisisme model Kuhn. Baginya sejarah adalah hal yang partikular, tidak bisa digeneralisasi atau diuniversalkan.

Bagi saya Falsifikasi Popper sangat normatif dan dalam kajian sosial seperti ini tidak memadai, Stephen Toulmin seorang pakar Filsafat ilmu, mengatakan bahwa Popper “concerns with what consideration that should properly determine the selection between new variants of theory”. Dengan kata lain, Popper duduk manis sambil sibuk mencari teori-tori yang dianggapnya baik. Titik tekan Popper pada “apa yang seharusnya” (das sollen). Popper tak pernah mengakui sebuah kesimpulan jika masih ada data yang belum diverivikasi. Semua harus dilihat secara empirik.

Dalam hal ini saya lebih memilih Thomas Kuhn, yang mendasarkan analisanya pada das sein (realita). Kalau ingin melihat kritik yang lebih ngepop dan cerdas terhadap pemikiran popper ini, saya merekomendasikan Yann Martel Dalam novelnya “Life of Pi”.

Saya tak ingin membawa perdebatan “Kuhn vs Popper di University of London tahun 1965 itu disini. Yang jelas ketika ideologi dan agama saya anggap biang keladi tragedi kemanusiaan, saya melihat dari sejarah, melihat (das sollen). Ideologi didalam dirinya tak pernah menyandangkan predikat negatif untuk dirinya sendiri. Setiap agama selalu merasa agamanya yang paling benar. Kiranya Lenin masih cocok untuk dikutip “Untuk menilai manusia, jangan melihat apa yang dikatakan, tapi apa yang diperbuat”.

Dengan tanpa sadar Mas Saleh juga melakukan pembagian ideologi dam kedua kelompok; ideologi penjajah dan ideologi terjajah. Unsur keterlibatan Subyek disini sangat kental. Buktinya tak ada satupun agama atau ideologi yang mengaku dirinya sebagai penjajah. Tema ini lain kali bisa disiskusikan.

Melalui entri point robert spencer, Mas saleh mencoba memperkenalkan islam dengan sekian banyak variannya. Kemudian Saleh melihat ada sebuah agama (Islam) yang jauh dari bingkai penyebab kebiadaban. Pertanyaan saya, Islam seperti apakah itu?

Sekali lagi, Mas Saleh menulis: “Di sisi yang lain, Imam Khomeini, dalam buku al-Bai’nya, melihat jihad ibtida’i tidak dalam bingkai pemaksaan agama Islam kepada orang lain. Artinya, tidak ada unsur agama atau ideologi di dalamnya”. Disana jelas Imam Khomaini tidak mengatasnamakan perjuangannya sebagai perjuangan agama atau ideologi. Dan dalam hal ini, contoh yang dikemukakan Mas Saleh belum mewakili Anomali data yang menurutnya bisa menggugurkan “klaim besar” saya. Revolusi Islam diluar kontek ini. Seperti yang dikatakan Imam Khomeini “…masalah ini murni dalam bingkai hubungan internasional. Penyerangan hanya berlaku bila syarat-syarat untuk hidup secara damai dan harmonis antar negara sudah hilang”
Saya teringat Che guevara yang pernah mengatakan “siapapun kamu, jika menentang semua ketidakadilan, kamu adalah temanku”. Imam dan Che benar, tidak perlu agama dan ideologi kalau hanya untuk menentang kebiadaban.

Oleh karena itu dengan sangat terpaksa, segunung permintaan Mas saleh untuk mencari bukti-bukti “kebiadaban” revolusi Islam yangg dipimpin Imam Khomeini tidak perlu ditanggapi.

Dari sekian banyak kritik, saya mengambil kesimpulan, kawan-kawan sebenarnya mengakui, memang ada sisi “jahat” dari agama dan ideologi disamping sisi positifnya. Dari beberapa tulasan lalu, saya memang sengaja men –ZOOM – bagian yang jahat itu tadi (Tentu melalui pendekatan sejarahnya Thomas Kuhn). Tentang masalah “sisi positif” tadi, nampaknya para idiolog dan agamawan harus membuktikan “kemuliaan” itu.
Hans kung (global ethic..) , perlu dibaca sekali lagi melukiskan bagaimana menyeramkannya konisi dunia saat ini.

“Situasi dunia semakin suram. Manusia tak henti-hentinya didera berbagai krisis fumdamental dan mondial; krisis ekonomi dan ekologi global akibat kepemimpinan politik yang yang miskin visi besar. Ratusan juta manusia didera kemiskinan, pengangguran dan kelaparan. Planet bumi terancam kepunahan ekosistem.ketegangan antarnegara, antar generasi dan bahkan atar jenis kelamin semakin memanas. Anak-anak bergelimpangan dibunuh atau terpaksa membunuh. Pemerintah dibanyak negara semakin bobrok akibat korupsi. Konflik sosial, rasial dan etnik semakin menjadi-jadi. Penyalahgunaan obat, kejahatan yang semakin teroganisir. Perdamaian tak kunjung tiba akibat polah para penguasa politik dan agama yang masih suka saling menghasut, membenci, xenopobia dan sikap standar ganda. Perilaku manusia semakin menjijikan, cabul dan memuakan. Sempurnalah kebejatan jaman. Seolah-olah apa yang tersisa dalam batok kepala manusia modern hanyalah utopia gelap dengan kerisauan nasib masa depan yang semakin menakutkan dan benar-benar menyeramkan”

Tapi yang lebih penting dari itu, untuk melawan kebiadaban dan dehumanisasi tidak perlu bergabung apalagi merumuskan ideologi. Semut, tanpa ideologi sekalipun juga bisa melawan.

Saya sengaja menukilkan Hans kung diatas agar menjadi renungan kita bersama.. bukan hanya gigih mengusung identitas ideologi dan “kebenaran agamanya” masing-masing…

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Interview With Homicide « b@Ra hAti3 said, on Februari 14, 2008 at 6:20 am

    […] […]

  2. yudi said, on Februari 25, 2010 at 10:00 am

    Open Mind thanks…. bro
    saya rasa kalau semua punya pemikiran seperti itu manusia akan jadi lebih baik
    dan bumi akn sedikit toleran kepada kita Ok🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: