Scrapman On The Blog

Mengapa Cinta

Posted in Fresh by scrapman on Mei 3, 2006

Mengapa Cinta

Mengapa Kau bilang cinta

Dan memberikan tanda jingga pada pita hitam ditiap

khawatir yang menyelimutimu

Mungkin kau tak paham bahwa cinta

dilahirkan dari rangkain keterlaluan

Perlahan, semua menjadi samudra keresahan

Karena titik-tik gerimis itu

tak pernah berjanji

Tak pernah Sejati

Tak pernah abadi

Ia hanya tahu, akan menjadi butir kaca di pucuk-pucuk rambutmu

dan akan kau seka sebelum senja berlalu

dan cinta akun merapuh pelan-pelan

Kemudian kau paksa aku untuk mengatakan

kita, masih terlalu muda untuk berjanji

untuk mencintai

Siapa Kau


Siapa kau yang bersembunyi pada warna pelangi

Kau panas yang cemas

Dingin yang menjebol pori-pori

Mengguritkan luka ketika pagi basah

Kau berlindung dalam kabut

Kau pernah titipkan gelora itu pada sungai yang merambat

Pada warna perak yang mematahkan surya

Dan heningku terseka luka

Kukecupkan hangatku pada tujuh kebisuan

Tapi kau tetap hampa ringan tanpa cela

Aku lelah dan telah mengembara

Bersembunyi dalam selaksa nama

Aku hampir putus asa

Menapaki lengkung tanda tanya

Subuh ini, kau kembali datang dengan mawar tak berwarna ditangan

Kau serahkan bunga itu dan aku tak percaya

DOA

Disana bukit masih memintal doa

Berjuta mantra menguap

Dan langit yang berkaca-kaca

Bisu, tak bersuara

Semua tahu, cinta akan membeku menjadi kubus

Dan bunga-bunga akan menyayikan hymne

Hingga malam larut

Begitu seterusnya, apapun maknanya

Sampai semua yang tahu terlelap

semua yang tak tahu berdebat, berkeringat

Berlari

Perlahan, kereta berderit. Berhenti

Tapi aku harus berlari

Sebelum siang yang mengkilat

Menyentuh leherku

Malam memang tinggal seperempat

Namun burung hantu punya rencana ketat

Dan aku harus berlari

Seperti dikejar

Memburu kamu

Tapi waktu teramat pejal bagi kakiku

Aku seperti kupu

Disudut mawar yang meracuniku

Sampai juga kakiku menyentuh tempat ini

Nampaknya aku harus menggu

Kereta, dikejauhan terdengar mendengus pergi

Ketika embun seperti peri, mungkuyupkan dahi

Aku tak tahu

Kenapa masih juga menunggu.

Rebahlah

Rebahlah dalm gelombang senyap

Inilah saat, dimana semua kesucian menguap

Rasakan! Debar di uluhatimu bersulang bosan

Ingat, apa yang belum tercatat

Nyanyian parau

Wajah-wajah kalah

Karena kita harus menyudahi mimpi ini

Untuk bermimpi lagi lebih panjang

Rindukan, saat kita sibuk mencurangi diri

Neraka dan surga membaur menjadi teratai

Indah sekali, lalu kita sulut rokok mengusir bosan

Andai saja mereka tahu sipa kita

Waktu tak pernah mengizinkan nafas ini

bersenggama dengan udara

andai tuhan tahu rencana kita

tapi kita tak punya rencana

indah benar, hanya mimpi yang tak bosan-bosan

aku mencintaimu, juga pita dirambutmu!

Kau akan datang

Kau berjanji akan datang

Sebelum kembali pulang

Dan aku harus bersiap menelan detik menyedihkan

Lalu hanya bunyi gerimis jatuh di seng

Tapi aku tak ingin menunggumu

sampai gunung-gunung berhenti berdongeng

Daun jambu tak lagi sendu

Kesturi getir, semuanya hambar

Aku pasrah pada salib perak yang pernah kau ukir

Dan seperti dalam layar itu

Darahku akan membimbing tanganm

Menutup hidungmu, hatimu.

Kau berjanji akan datang

Tapi aku tak menunggumu

Aku pasrah pada salib perak yang pernah ku ukir

Cuaca yang berat dan kesturi yang getir

Siapa

Siapa yang berhak memaknai hidup

Jangan tanya pada pengelana

Atau irama musim yang mulai pelupa

Tanyakan pada lembah tak berdasar itu

Kau tahu gema suaramu akan menjawab

Sesempurna cermin yang menirukan senyummu

juga tangismu

mungkin tuhan dibawah sana

apa kau tak melihat warna puitis yang pekat itu

atau diam-diam ada wajah lain

yang terselip diaortamu

memang, buka dan tidak untuk apapun

tapi pekat itu tak mau dikoyak pagi

kau bisa menggambar apapun disana

dia adalah tanya yang menemukan jawabnnya

siapa tahu, Tuhan disana!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: