Scrapman On The Blog

Aku bukan petarung

Posted in Fresh by scrapman on Mei 3, 2006

Aku bukan petarung. Dan aku ga akan pernah mau menjadi petarung. Pertarungan yang kukenal adalah pertarungan melawan pemaksaan agar aku menjadu petarung.

Tentang jakarta yang konon tempat para petarung, aku tak percaya! Aku tahu belum kenal jakarta tapi aku tahu hidup bukanlah pertarungan yang harus saling membinasakan. Aku bertahan sampai aku mati.

Kenapa waktu yang berlari berdesing meneriakan keributan, kebengisaan dari usaha mati-matian untuk bertahan hidup. Apakah mereka tahu apa sebenarnya yang mereka perjuanagkan. Gelora massif, kemabukan massal dan siapapun yang melihat itu akan terpengaruh ikut. Setidaknya berpikir mimesis.

Aku seperti hidup didalam rimba, semua tak saling sapa, tapi saling mendelik, melirik siap memangsa, mencurigai bahkan diri sendiri. Ada bebrapa yang salaing berkomunikasi tapi mereka saling menipu. Dan sepertinya mereka saling tahu bahwa dirinya penipu.

Masjid, gereja dan semua tempat ibadah adalah fashion yang dikenakan untuk kemewahan sebuah gengsi, paling tidak masjid dan gereja itu megah karena dibangun sebagai bukti bahwa mereka beriman, mereka bertuhan, dan pantas sekali apabila yang mendirikan tempat ibadah itu para koruptor, bajingan-bajingan yang sebenarnya tak tahu persis apa agama, apa tuhan. Mereka hanya tahu agama dan tuhan masih laku untuk dijadikan topeng.

Kita sudah terlanjur dilemparkan (oleh sesuatu yang kita namakan tuhan) di dunia seperti itu, apa maksudnya? Siapapun dilarang menjawabnya. Yang jelas pertarungan demi pertarungan masih juga belum berakhir, sejarah manusia adalah sejarah itu semua. Kita ketika lahir dipaksa mencium darah dari orang tua kita yang sudah terbunuh, kewajiban moral yang dibisikan mereka adalah balas budi (dendan). Itu dikenal denagn nama “kebaikan, balas budi”

Barang siapa yang mencintai manusia dan kedamaian harus berhadapan dengan sejarah dirinya, harus mengalahkan dirinya sendiri. Para pecinta damai adalah orang-orang yang ahistoris, pemimpi-pemimpi gila. Semua akan menertawainya.

Aku, dengan tangan yang masih berlumur darah ingin sekali menjadi ahistoris semacam itu. Dua tahun dijakarta lumayan membuatku terjungkal dan terbenam dalam semua itu. Aku sadar keinginan adalah mulut terlebar, sumur terdalam, tangan terpanjang. Dibutuhkan keabadian untuk memuaskan keinginan itu. Dan aku tak mau memuaskan. Keinginan itu sudah terlalu banyak meminta korban, darah bahkan diriku sendiri. Dan aku mulai tahu……. Dia adalah maklhuk lain diluar diriku. Walaupun begitu intim, begitu sublim dan karenanya sangat berbahaya.

Tapi aku juga takterlalu setuju dengan mereka-mereka yang menghajar tubuhnya, menjalani penderitaan dan kesucian dengan menganggap dunia ini rendah, kotor dan karenanya harus dijauhi. Bagiku, cukup mengatur keinginan, menjalani kesederhanaan, sesuai kemampuanku. Aku akan makan bila terasa lapar sekali, begitupun yang lainnya. Dengan kata lain perlu meredefinisikan kebutuhan hidupku yang sudah rusak terkena air bah iklan dan hasutan lainya.
Aku ingin hidup yang kecil, indah dan sepi dari rencana-rencana besar dan buas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: